SelamatTinggal Aku berkaca Ini muka penuh luka Pertanyaan Selamat Tinggal Aku berkaca Ini muka penuh luka Siapa punya? Kudengar seru menderu dalam hatiku? Apa hanya angin lalu? Lagu lain pula Menggelagar tengah malam buta Ah !!! Segala menebal, segala mengental Segala tak ku kenal Selamat tinggal !!! (Chairil Anwar) PuisiChairil Anwar Puisi 1 SELAMAT TINGGAL Ini muka penuh luka Siapa punya? Kudengar seru menderu Dalam hatiku Apa hanya angin lalu? Lagi lain pula Menggelepa ChairilAnwar. Chairil Anwar. Kawanku dan Aku. Sudah larut sekali. Segala tak kukenal. Selamat Tinggal. Chairil Anwar. Aku. Aku mau hidup seribu tahun lagi. Chairil Anwar. Yang Terampas dan Yang Putus. Dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu; tapi hanya tangan yang bergerak lantang. berita, wawancara atau terjemahan puisi ke SentraPembelajaran Bauran Terpadu. i-LMS Unja sebagai platform utama pembelajaran bauran terpadu di Universitas Jambi, mengakomodir berbagai bentuk kegiatan pembelajaran sinkron dan asinkron. DeruCampur Debu pertama diterbitkan di tahun kematian Chairil Anwar pada tahun 1949. Kemudian puisi-puisi ini diterbitkan kembali dan dilengkapi dengan ilustrasi oleh Oesman Effendi tahun 1958. Kulit di sebelah merupakan edisi 1958 Selamat Tinggal. Segala menebal, segala mengental. Segala tak kukenal. Selamat Tinggal. Chairil Anwar. Aku Puisidibangun dengan dua struktur, yaitu struktur fisik dan struktur batin. Struktur fisik merupakan unsur pembentuk puisi yang dapat diamati secara visual. Selamat Tinggal. aku berkaca. ini muka penuh luka. siapa punya? kudengar seru menderu. dalam hatiku. apa hanya angin lalu? (Chairil Anwar, DCD 1959:7) Parafrasanya : Kalau si aku Selamat Tinggal' Chairil Anwar Aku berkaca Ini muka penuh luka Siapa punya? Kudengar seru menderu -dalam hatiku?- Apa hanya angin lalu? Lagu lain pula Menggelepar tengah malam buta Ah..!! Segala menebal, segala mengental Segala tak kukenal..!! Selamat tinggal!! Analisis Puisi 'Selamat Tinggal' Berdasarkan Ketidaklangsungan Ekspresi Riffaterre. Selamattinggal!! Puisi Kehidupan . Hari hari lewat, pelan tapi pasti. Hari ini aku menuju satu puncak tangga yang baru. Namun banyaknya puisi Chairil Anwar tak sanggup disajikan di dalam artikel ini. Meskipun hidup hanay selama 27 tahun, Chairil Anwar telah melahirkan banyak karya puisi yang bisa menginspirasi sastrawan-sastrawan BerandaKOLOM Kumpulan Puisi Chairil Anwar. KOLOM, SASTRA & BUDAYA . Kumpulan Puisi Chairil Anwar. bicaradata.net. 4 Februari 2021 4 Oktober 2021. Selamat tinggal!! #2. AKU.. Kalau sampai waktuku. Aku mau tak seorang kan merayu. Tidak juga kau. Tak perlu sedan itu. Aku ini binatang jalang. Matanyaterucap kata selamat tinggal, ia menolak Dia pergi ke desa - desa, semak - semak, bertaruh di setiap harinya guna menjalani hidup. Contoh Puisi Chairil Anwar. Hampa. Kepada sri. Sepi di luar. Sepi menekan mendesak. Lurus kaku pohonan. Tak bergerak Sampai ke puncak. Sepi memagut, S0FHd7. Aku berkaca Bukan buat ke pesta Ini muka penuh luka Siapa punya? Kudengar seru-menderu — dalam hatiku? — Apa hanya angin lalu? Lagu lain pula Menggelepar tengah malam buta Ah............!!! Segala menebal, segala mengental Segala tak kukenal............ Selamat tinggal...............!!! 12 Juli 1943 Aku berkaca Ini muka penuh luka Siapa punya? Kudengar seru menderu — dalam hatiku? — Apa hanya angin lalu? Lagu lain pula Menggelepar tengah malam buta Ah ..................?? Segala menebal, segala mengental Segala tak kukenal ................!! Selamat Tinggal ................!! SELAMAT TINGGAL Karya Chairil Anwar Versi KT* Aku berkaca Bukan buat ke pesta Ini muka penuh luka Siapa punya? Kudengar seru-menderu – dalam hatiku? – Apa hanya angin lalu? Lalu lain pula Menggelepar tengah malam buta Ah…!!! Segala menebal, segala mengental Segala tak kukenal…. Selamat tinggal…!!! 12 Juli 1943 Chairil Anwar *KT ā€œKerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus SELAMAT TINGGAL Karya Chairil Anwar Versi NA* perempuan…. Aku berkaca Ini muka penuh luka Siapa punya? Kudengar seru menderu – dalam hatiku? – Apa hanya angin lalu? Lalu lain pula Menggelepar tengah malam buta Ah…!!! Segala menebal, segala mengental Segala tak kukenal…. Selamat tinggal…!!! 12 Juli 1943 Chairil Anwar *NA Naskah Asli Beri peringkat AhokAyah Marshanda PengemisChairil AnwarLukaMeninggalOlga SyahputraPamitPuisiPuisi CerminPuisi Chairil AnwarPuisi KematianPuisi NormantisPuisi Perjuangan PahlawanSaipul JamilSelamat Tinggal BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!KARYA TERBARU Mau dapat update Puisi Normantis tiap hari? Bergabung dengan pelanggan lain Sumber SELAMAT TINGGAL Aku berkaca Ini muka penuh luka Siapa punya? Kudengar seru menderu .....dalam hatiku? ..... Apa hanya angin lalu? Lagu lain pula Menggelepar tengah malam buta Ah.....................................?? Segala menebal, segala mengental Segala tak kukenal .................................!! Selamat Tinggal ...............................!! - Selamat Tinggal adalah salah satu puisi karya Chairil Anwar yang tidak bisa kupahami. Di benakku susunan kata-katanya tidak runtut. Bagaimana alur cerita dari puisi tersebut tidak kumengerti. Saat mengatakan "Aku berkaca" terus diikuti kata-kata "Ini muka penuh luka. Siapa punya?" Apakah yang dimaksudkan. Lukanya berasal dari mana? Apakah luka karena perang ataukah luka secara psikis. Siapa punya? Ini pertanyaan buat siapa? Ataukah sekedar pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. Ataukah dia merasa tidak ada seorang pun yang memilikinya atau berharap akan kehadirannya. Ada nada keputuasaan. Seolah-olah tidak ada orang lain yang punya harapan padanya. Kudengar seru menderu .....dalam hatiku? ..... Apa hanya angin lalu? Bagaimana ceritanya kok dilanjutkan dengan bait-bait seperti ini. Apa hubungannya dengan bait pertama, Kelihatan meloncat-loncat alur ceritanya, Ini setidaknya menurut saya. Bagaimana mungkin menganggap gemuruhnya hatinya sekedar angin lalu. Apakah yang dimaksudkan, dia mulai gelisah. Gugup. Mulai kehilangan kesadaran. Lagu lain pula Menggelepar tengah malam buta Lagu lain apa yang menggelepar di tengah malam buta. Selain kegelisahan yang dirasakannya apakah semakin bertambah dengan hadirnya bunyi-bunyian lain yang entah..dianggap memekakan telinga atau setidaknya membuat dirinya makin gundah. Gelisah, Semakin tidak terkendali. Sampai akhirnya dia mulai menyerah. Ah.....................................?? Segala menebal, segala mengental Segala tak kukenal .................................!! Selamat Tinggal ...............................!! Apanya yang menebal apanya yang mengental. Apakah kesadarannya mulai nyaris hilang. Tidak mampu merasakan apa-apa lagi. Tidak bisa mengenali dirinya sendiri. Tidak bisa mengenali orang lain, Semakin melemah. Merasa sendiri. Sampai akhirnya hanya menyisakan kata-kata "Selamat Tinggal...................." Mudah-mudahan dengan sedikit senyum di bibir.